Kunjungan kerja Ketua DPR RI, Puan Maharani, ke kantor pusat raksasa teknologi Meta dan Google di Amerika Serikat minggu ini membawa misi spesifik yang mendesak bagi publik tanah air. Di tengah diskusi mengenai penguatan demokrasi dan literasi digital, Puan menempatkan isu pemberantasan judi online (judol) sebagai prioritas utama dalam dialognya bersama petinggi platform tersebut. Pertemuan strategis ini terjadi bertepatan dengan momen penting bagi Meta yang baru saja menandai 22 tahun perjalanannya di industri teknologi global pada Februari 2026 ini.
Dalam pertemuan dengan Andy O’Connell dan Berni, dua figur kunci di perusahaan tersebut, Puan menyoroti betapa krusialnya peran platform digital dalam menyaring konten berisiko. Indonesia, yang kini tercatat sebagai negara dengan basis pengguna Instagram terbesar keempat di dunia, memiliki kepentingan besar untuk memastikan ruang digitalnya tidak tercemar aktivitas ilegal.
Langkah Tegas Blokir Konten Ilegal
Agenda tur Puan tidak hanya berhenti di ruang rapat. Ia diajak berkeliling melihat langsung fasilitas teknologi terkini yang sedang dikembangkan di markas Meta, termasuk demonstrasi kemampuan sistem pemblokiran konten mereka. Sebuah fakta menarik terungkap dalam tur tersebut: dari sekian banyak konten yang dimoderasi, aktivitas terkait judi online menjadi kategori yang paling banyak diblokir untuk wilayah Indonesia.
Mantan Menko PMK tersebut mengapresiasi langkah agresif Meta yang telah menghapus ribuan akun dan konten terafiliasi dengan perjudian. Puan menegaskan bahwa judol bukan sekadar masalah hukum, melainkan wabah sosial yang menggerogoti fondasi ekonomi keluarga dan merusak masa depan generasi muda.
“Langkah Meta ini sangat membantu upaya Indonesia memerangi praktik judi online. Terima kasih atas kerja sama ini,” ungkap Puan dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara regulator dan penyedia platform adalah kunci agar konten destruktif semacam ini tidak lagi mendapat ruang gerak di dunia maya.
Transformasi Menuju Era Kecerdasan Buatan
Kunjungan delegasi Indonesia ini berlangsung saat Meta tengah berada di puncak transformasi teknologinya. Jika menengok ke belakang, tepatnya 4 Februari 2004, Mark Zuckerberg bersama rekan-rekan asramanya di Harvard—Chris Hughes, Dustin Moskovitz, dan Eduardo Saverin—hanya berniat menciptakan direktori daring sederhana untuk mahasiswa. Kini, di tahun 2026, platform tersebut telah berevolusi menjadi ekosistem raksasa dengan 3,07 miliar pengguna aktif bulanan.
Perubahan paling radikal terlihat pada bagaimana konten disajikan. Umpan berita (feed) yang dulunya hanya menampilkan status teman secara kronologis, kini telah digantikan oleh algoritma berbasis kecerdasan buatan (AI) yang canggih. Sistem ini secara otomatis memindai minat dan sinyal perilaku pengguna untuk menyajikan konten yang relevan, sebuah pergeseran strategi dari sekadar mengejar pertumbuhan pengguna menjadi efisiensi AI dan otomatisasi iklan.
Tak hanya berkutat pada perangkat lunak, ambisi perusahaan juga telah meluas ke ranah perangkat keras. Investasi besar-besaran dilakukan pada pengembangan kacamata pintar dan perangkat realitas virtual melalui lini Meta Quest, yang dulunya dikenal sebagai Oculus.
Jejak Sejarah dan Tanggung Jawab Platform
Perjalanan dua dekade lebih ini tentu tidak selamanya mulus. Sejarah mencatat berbagai turbulensi, mulai dari sengketa kepemilikan ide awal dengan si kembar Winklevoss yang berakhir di pengadilan, hingga penyelesaian masalah privasi dengan Federal Trade Commission (FTC) pada 2011. Kala itu, Zuckerberg harus mengakui secara terbuka adanya kesalahan dalam penanganan data pengguna, sebuah isu yang hingga kini masih menjadi perhatian utama regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Namun, di balik kontroversi dan persaingan bisnis, aspek filantropi tetap berjalan beriringan. Sejak menandatangani Giving Pledge pada 2010, Zuckerberg dan istrinya, Priscilla Chan, telah menyalurkan dana masif untuk sektor kesehatan dan pendidikan, termasuk donasi besar untuk Rumah Sakit Umum San Francisco dan inisiatif konektivitas internet sekolah.
Sinergi antara sejarah panjang inovasi Meta dan desakan regulasi dari negara seperti Indonesia menciptakan dinamika baru. Bagi Puan, kecanggihan teknologi yang dimiliki Meta haruslah linier dengan tanggung jawab sosialnya. Kebijakan yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan kanal digital secara positif kini menjadi harga mati, demi melindungi masyarakat dari dampak negatif teknologi yang terus berkembang tanpa henti.