Gelombang Baru WhatsApp: Kemudahan Login via Passkey dan Akhir Era Chatbot Pihak Ketiga

Techno

WhatsApp, aplikasi pesan instan di bawah naungan Meta, tengah melakukan perombakan signifikan yang menyentuh dua aspek vital: kemudahan akses pengguna dan eksklusivitas ekosistem kecerdasan buatan (AI). Di satu sisi, pengguna kini dimanjakan dengan penghapusan ketergantungan pada kode OTP untuk masuk ke akun, namun di sisi lain, akses terhadap asisten virtual populer seperti ChatGPT dan Microsoft Copilot akan segera dibatasi secara ketat.

Selamat Tinggal Kode OTP, Selamat Datang Passkey

Kabar baik datang bagi pengguna yang kerap merasa repot menunggu SMS kode verifikasi atau OTP saat hendak masuk (login) ke aplikasi. WhatsApp secara resmi menghadirkan fitur keamanan anyar bernama passkey. Fitur ini menjadi solusi modern yang memungkinkan pengguna masuk ke akun WhatsApp tanpa perlu lagi memasukkan kode angka manual yang dikirim via SMS. Sebagai gantinya, verifikasi identitas dialihkan menggunakan sistem keamanan biometrik yang sudah tertanam di perangkat pengguna, seperti pemindai sidik jari (fingerprint), pemindai wajah (face unlock), atau sekadar PIN pengunci layar.

Teknologi ini tidak hanya menawarkan kecepatan, tetapi juga lapisan keamanan yang lebih solid. Sistem passkey dikembangkan oleh FIDO (Fast IDentity Online) Alliance untuk menggantikan metode kata sandi tradisional yang kerap menjadi celah peretasan. Mekanismenya pun tergolong sederhana; pengguna cukup mengakses menu pengaturan, masuk ke opsi “Passkeys”, dan mendaftarkan sistem keamanan perangkat mereka. Begitu aktif, proses login di masa depan akan berlangsung instan hanya dengan satu sentuhan jari atau pindai wajah.

Dominasi Meta AI dan Pemblokiran Chatbot Eksternal

Kontras dengan fleksibilitas fitur login, Meta justru mengambil langkah proteksionis terkait integrasi kecerdasan buatan di platform mereka. Berdasarkan laporan terbaru, raksasa teknologi ini telah merevisi ketentuan layanan yang secara efektif melarang penggunaan chatbot AI dari pihak ketiga. Artinya, layanan populer seperti ChatGPT besutan OpenAI dan Microsoft Copilot tidak akan lagi bisa beroperasi di dalam ekosistem WhatsApp.

Langkah ini bukanlah rumor belaka. OpenAI telah mengonfirmasi rencana penghentian dukungan mereka di WhatsApp pada bulan depan, disusul oleh Microsoft yang juga mengumumkan hal serupa awal pekan ini. Perubahan kebijakan ini menegaskan ambisi perusahaan induk WhatsApp untuk membersihkan platform dari kompetitor dan menjadikan “Meta AI” sebagai satu-satunya asisten cerdas yang tersedia bagi miliaran penggunanya.

Tenggat Waktu dan Dampak Bagi Pengguna

Berdasarkan revisi aturan yang dirilis, kebijakan pelarangan total terhadap AI non-Meta ini dijadwalkan berlaku efektif sepenuhnya mulai 15 Januari 2026. Namun, transisi menuju penutupan akses tersebut sudah mulai dirasakan dalam waktu dekat. Situasi ini tentu memaksa pengguna setia chatbot eksternal untuk mencari alternatif atau mulai beradaptasi dengan Meta AI.

Bagi pengguna ChatGPT yang selama ini mengintegrasikan aktivitasnya di WhatsApp, masih terdapat opsi untuk menyelamatkan data dengan menautkan akun guna mempertahankan riwayat percakapan. Sayangnya, privilese serupa tidak tersedia bagi pengguna Microsoft Copilot, yang tampaknya harus merelakan integrasi layanan tersebut terputus tanpa opsi pencadangan yang setara. Fenomena ini diprediksi akan merembet ke layanan AI lainnya, termasuk Perplexity, yang kemungkinan besar juga akan segera angkat kaki dari platform pesan tersebut.