Microsoft baru saja melepas update preview kumulatif KB5089573 untuk Windows 11 versi 25H2 dan 24H2. Ada sekitar 30 perombakan yang disuntikkan ke dalam sistem, yang fokus utamanya mendongkrak performa dan menambal stabilitas. Update ini sebenarnya bagian dari jadwal rilis non-security preview di akhir bulan, semacam arena uji coba buat admin IT atau pengguna antusias untuk menjajal fitur baru sebelum digulirkan secara massal pada ajang Patch Tuesday bulan depan. Mengingat sifatnya yang opsional, kamu tidak akan menemukan patch keamanan di sini.
Instalasinya cukup gampang. Kamu bisa sedot langsung dari Microsoft Update Catalog atau mampir ke menu Settings, masuk ke Windows Update, lalu klik “Check for Updates”. Kalau opsi untuk selalu mendapatkan pembaruan terbaru tidak kamu centang, OS bakal nanya dulu lewat tautan “Download and install” sebelum mulai mengeksekusi file.
Setelah dipasang, perangkat Windows 11 25H2 dan 24H2 milikmu bakal naik kelas ke build 26200.8524 dan 26100.8524. Salah satu ubahan yang langsung terasa ada di logika layar masuk. Kalau kamu sudah mendaftarkan wajah atau sidik jari di Windows Hello, sistem akan memaksa itu jadi metode login default—masa bodoh dengan cara apa yang kamu pakai sebelumnya. Tapi sistemnya cukup pintar; misal kamu sedang terpaksa pakai PIN tiga kali berturut-turut, Windows bakal menahan PIN tersebut sebagai metode utama sampai kamu sendiri yang beralih ke opsi lain.
Selain urusan login, KB5089573 juga membereskan penyakit nge-hang di File Explorer, memperhalus proses ganti tema di Settings, dan memperbaiki respons touch gesture. Buat perangkat yang sering keluar-masuk mode Modern Standby, proses resume sekarang diklaim lebih ngebut dengan tingkat kegagalan otentikasi Windows Hello yang jauh ditekan.
Di level yang lebih teknis, ada fitur Shared audio yang memungkinkan dua orang mendengarkan output suara yang sama secara simultan dari satu PC. Bug menjengkelkan di Task Manager—di mana clock speed CPU untuk Virtual Machine (VM) sering tampil tidak masuk akal setelah hibernation—juga sudah diberantas. Efisiensi daya ikut disentuh. Microsoft menertibkan aplikasi nakal yang sering menahan sensor hub tetap nyala dan membereskan manajemen daya pada Human Interface Device (HID) saat mode standby. Yang tak kalah penting, ada pembaruan data targeting untuk mendistribusikan sertifikat Secure Boot baru secara bertahap, menggantikan sertifikat lawas era 2011 yang umurnya tinggal menghitung hari sampai akhir Juni ini.
Sayangnya, cerita manis di ekosistem klien ini tidak menular ke divisi server. Di waktu yang berdekatan dengan rilisnya update Windows 11, Microsoft terpaksa mengonfirmasi hadirnya mimpi buruk baru di update keamanan Mei 2026 untuk Windows Server 2016. Ada sebuah masalah konyol namun fatal: sistem yang kebetulan memiliki hostname persis 15 karakter tiba-tiba lumpuh saat mencoba mencari domain controller (DC). Menariknya, sistem dengan hostname 14 atau 16 karakter sama sekali tidak tersentuh bug ini.
Secara teknis, saat komputer melakukan DC lookup untuk mencari server yang tersedia, panggilan ke DCLocator malah mengembalikan kode ERROR_INVALID_PARAMETER. Praktis, aplikasi dan tool administratif jadi buta arah karena kehilangan jejak domain controller. Dampaknya langsung menjalar ke mana-mana, terutama membuat repot administrator yang bergantung pada akses DC untuk mengelola DFS Namespace dan sederet tugas krusial lainnya. Microsoft mengaku sedang turun gunung menginvestigasi biang keroknya, tapi belum berani menjanjikan kapan patch perbaikannya akan turun.
Rentetan blunder semacam ini seakan sudah jadi lagu lama di keluarga Windows Server. Ekosistem ini sedang tidak baik-baik saja. Bulan lalu saja, Microsoft harus buru-buru merilis update darurat untuk menambal isu reboot massal. Mundur sedikit ke belakang, ada kasus absurd di mana Windows Server 2025 tiba-tiba putus kontak dengan DC setelah di-restart. Belum lagi error Windows Update di Januari akibat partisi EFI yang kepenuhan, sampai bug menggelikan di bulan April yang diam-diam meng-upgrade sistem Windows Server 2019 dan 2022 ke versi 2025 tanpa permisi.
Rentetan kekacauan infrastruktur ini memberi sinyal yang cukup keras. Windows Server 2016 sebenarnya sudah tamat riwayat mainstream support-nya sejak Januari 2022. Microsoft hanya memberinya napas buatan lewat extended support hingga Januari 2027 agar perusahaan punya waktu migrasi. Mengingat beban teknis dan bug yang semakin sering muncul belakangan ini, mungkin membiarkan server menua sambil berharap update bulanannya selalu aman sudah bukan lagi strategi yang masuk akal.